Berita Terkini
Perkuat Layanan Mustahik, BAZNAS Bangun Tata Kelola Berbasis Sistem
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI membangun tata kelola berbasis sistem dan berkelanjutan untuk memastikan penghimpunan dan penyaluran zakat tetap berjalan secara konsisten serta layanan bagi mustahik tidak bergantung pada kehadiran sosok atau pimpinan tertentu.
Pernyataan tersebut disampaikan Pimpinan Digitalisasi, Keuangan, dan Operasional BAZNAS RI Dr. H. Mokhamad Mahdum, MIDEc, Ak, CPA., saat menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026 di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh 1.300 perwakilan BAZNAS provinsi serta kabupaten/kota se-Indonesia.
"Jangan sampai karena kita tidak ada, BAZNAS kemudian turun penghimpunannya, atau pesantren dan rumah sakit tertentu tidak mendapat alokasi dari BAZNAS," jelas Mahdum.
Menurutnya, tata kelola berbasis sistem diperlukan agar operasional BAZNAS tetap berjalan dan penyaluran bantuan kepada mustahik berlangsung secara konsisten, terlepas dari pergantian pimpinan maupun personel.
Selain itu, rotasi dan pemindahan posisi amil dinilai penting untuk mencegah stagnasi karier sekaligus memperluas pengalaman dalam menghadapi beragam persoalan di lapangan.
"Semakin banyak orang-orang yang hebat itu terdistribusi cepat, karena semakin banyak kompleks persoalan yang dia hadapi, maka amil akan semakin hebat," ujar Mahdum.
Sumber:
SIARAN PERS
Nomor: 400/HUM-BAZ/X/2026
Kamis, 15 Oktober 2026
15/10/2026 | Humas BAZNAS RI
Danantara: Kepercayaan Publik Jadi Kunci BAZNAS Gali Potensi Zakat
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat strategi digital dan komunikasi publik untuk meningkatkan penghimpunan zakat serta membangun kepercayaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Managing Director Danantara, Rohan Hafas, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026 yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta, dengan mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”.
Rohan menyebutkan, Indonesia memiliki potensi zakat nasional yang diperkirakan mencapai Rp327 triliun. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui strategi penghimpunan yang lebih efektif, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan penguatan komunikasi kepada masyarakat.
“Jadi, mungkin idenya adalah berkomunikasi dengan masyarakat dalam hal zakat ini, terutama untuk menumbuhkan kepercayaan, bukan sekadar pengetahuan. Masyarakat mungkin sudah mengenal BAZNAS, tetapi kita juga perlu membangun kepercayaan mereka agar yakin menyalurkan zakat melalui BAZNAS,” ujar Rohan, Rabu (14/10/2026).
Selain penguatan komunikasi publik, Rohan juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara BAZNAS dan sektor keuangan syariah, termasuk Bank Syariah Indonesia (BSI). Sinergi tersebut dinilai dapat memperkuat peran keuangan sosial Islam dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ia juga mendorong pengembangan program pemberdayaan ekonomi, termasuk dukungan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pengelolaan zakat, menurutnya, perlu diarahkan agar tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi mereka.
Rohan menyatakan kesediaannya untuk turut mendukung upaya promosi BAZNAS agar lembaga tersebut semakin dipercaya masyarakat sebagai penyalur zakat.
“Tidak ingin menggurui, tapi mungkin nanti saya juga bantu untuk sisi bagaimana kita mempromosikan BAZNAS ini dalam arti supaya lebih dipercayai untuk menjadi satu-satunya penyalur zakat umat,” ujar Rohan.
Sumber:
SIARAN PERS
Nomor: 399/HUM-BAZ/X/2026
Kamis, 15 Oktober 2026
15/10/2026 | Humas BAZNAS RI
Sejahterakan Mustahik, BAZNAS RI Perkuat Strategi Pengumpulan Zakat dan Pengelolaan Muzaki
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat strategi pengumpulan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) serta pengelolaan muzaki untuk meningkatkan dampak zakat dan kesejahteraan bagi mustahik.
Hal tersebut disampaikan Pimpinan Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS RI, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2026 yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Jakarta, dengan mengusung tema “Konsolidasi Zakat Indonesia yang Produktif dan Berdampak”.
“Kita perlu meningkatkan angka perolehan, mobilisasi, dan pengumpulan zakat, infak, sedekah, serta DSKL secara signifikan setiap tahun dengan memelihara engagement muzaki lama sekaligus membuka segmen muzaki baru melalui strategi yang unggul,” ujar Rizaludin, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, terdapat empat hal utama yang perlu menjadi perhatian dalam strategi pengumpulan, yakni meningkatkan perolehan dan mobilisasi pengumpulan, memelihara muzaki lama, membangun segmen muzaki baru, serta menerapkan strategi unggul dalam pengelolaan muzaki.
“Bagaimana kita meningkatkan pengumpulan secara signifikan? Bagaimana kita melakukan pemeliharaan dan pengelolaan muzaki? Bagaimana kita menambah muzaki baru dan bagaimana menjaga loyalitas muzaki lama? Itulah tugas dan fungsi pengumpulan,” katanya.
Menurutnya, potensi pengumpulan zakat masih sangat besar, terutama melalui jaringan masjid, masyarakat, komunitas, dan desa. Karena itu, BAZNAS perlu memperkuat perannya dalam mengoptimalkan potensi zakat di berbagai sektor.
“Di luar neraca, potensi kita masih banyak karena memang ada jaringan masjid-masjid, masyarakat, komunitas, dan desa yang kita miliki. Tapi tentu ke depan BAZNAS harus bisa leading di semua sektor,” ujarnya.
Ia menambahkan, rencana strategis (renstra) pengumpulan memuat sejumlah indikator kinerja utama, mulai dari target mobilisasi pengumpulan dalam neraca, peningkatan jumlah muzaki, munfik, dan donatur, baik perorangan maupun badan, hingga target pengumpulan kurban dan dana sosial keagamaan lainnya. Kepercayaan muzaki juga menjadi salah satu indikator penting dalam keberhasilan pengumpulan.
“Kepercayaan muzaki ini juga menjadi kunci dari keberhasilan pengumpulan,” katanya.
Selain meningkatkan perolehan, Rizaludin menekankan pentingnya memperluas cakupan pengumpulan zakat pada berbagai sektor. Terdapat 10 jenis zakat yang perlu dioptimalkan, mulai dari zakat fitrah, emas, uang, perniagaan, pertanian, peternakan, pertambangan, perindustrian, pendapatan, hingga rikaz.
“Ini semua sesuai dengan PMA dan juga tercantum di undang-undang bahwa kita perlu mencakup semua sektor-sektor zakat,” tuturnya.
Dalam upaya menjangkau muzaki baru, Rizaludin memaparkan konsep LIA, yaitu linkage, interest, dan ability. Konsep ini menekankan pentingnya membangun jaringan dengan calon muzaki, memahami minat mereka, serta mempertimbangkan kemampuan mereka dalam menunaikan zakat.
“Perhatikan link-nya siapa, pawangnya siapa, atau siapa orang yang bisa menaklukkan, yang didengar. Kalau kita tidak bisa, cari orang yang bisa didengarkan oleh target muzaki kita. Kalau sudah dicoba tetapi belum berhasil juga, carilah linkage-nya. Mungkin bupati, kapolres, kapolsek, ataupun yang lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, untuk menjaga loyalitas muzaki lama, Rizaludin menjelaskan konsep LAI, yaitu linkage, advokasi, dan enforcement. Strategi ini dilakukan dengan memelihara hubungan dengan muzaki, mendengarkan keluhan serta masukan mereka, dan melibatkan muzaki dalam berbagai kegiatan.
Sumber:
SIARAN PERS
Nomor: 398/HUM-BAZ/X/2026
Kamis, 15 Oktober 2026
15/10/2026 | Humas BAZNAS RI
Agenda Pimpinan

Rakor Penyusunan RKAT Tahun 2027 UPZ Kemenag
INFORMASI KEGIATAN
Hari : Rabu
Tanggal : 23 September 2026
Waktu : 08.00 WIB
Acara : Rakor Penyusunan RKAT Tahun 2027 UPZ Kemenag
Tempat : RM Langgengsari Mbulu Pengasih
Petugas :
1. Bp. Agus
2. Junjung
23-09-2026 | Edi Kurniawan, M.M.

Perayaan HUT ke 21 HIMPAUDI
INFORMASI KEGIATAN
Hari : Kamis
Tanggal : 24 September 2026
Waktu : 08.00-11.00 WIB
Acara : Perayaan HUT ke 21 HIMPAUDI
Tempat : Taman Budaya Kulon Progo
Petugas :
1. Ibu Widiastuti
24-09-2026 | Edi Kurniawan, M.M.

BAZNAS Kulon Progo Perkuat Sinergi dengan Kodim 0731/Kulon Progo
BAZNAS Kabupaten Kulon Progo melakukan audiensi dengan Kodim 0731/Kulon Progo sebagai upaya memperkuat sinergi dalam optimalisasi pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) serta penguatan kerja sama penyaluran program kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat. Hadir dalam kegiatan Audiensi H. Alfanuha Yushida, M.PMat, H.Jumanto, SH, Sugiyanta, S.Pd.I, H. Agus Nuryanto, S.M dan Pelaksana Alex Kurniawan. Audiensi tersebut diterima langsung oleh Komandan Kodim 0731/Kulon Progo di Markas Kodim 0731/Kulon Progo pada Selasa 28 Juli 2026.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh semangat kolaborasi tersebut, BAZNAS Kulon Progo memaparkan berbagai program unggulan yang telah dijalankan, meliputi bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, dan dakwah. Selain itu, dibahas pula peluang kerja sama dalam penghimpunan ZIS di lingkungan Kodim serta sinergi penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan di wilayah Kabupaten Kulon Progo.
Ketua BAZNAS Kulon Progo H.Alfanuha Yushida, M.PMat menyampaikan bahwa BAZNAS tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan dan kolaborasi dengan Kodim 0731/Kulon Progo menjadi kekuatan besar dalam mewujudkan program-program yang lebih luas manfaatnya bagi masyarakat. Kami berharap sinergi ini dapat terus ditingkatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, Komandan Kodim 0731/Kulon Progo Letkol. Inf. Dyan Niti Sukma, S.I.P., M.Han. menyambut baik kunjungan dan audiensi dari BAZNAS Kulon Progo. Ia menyampaikan apresiasi atas berbagai program yang telah dijalankan BAZNAS dalam membantu masyarakat serta menyatakan kesiapan Kodim untuk mendukung program-program kemaslahatan yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Audiensi ini diharapkan menjadi langkah penguatan kerja sama yang lebih konkret antara BAZNAS Kulon Progo dan Kodim 0731/Kulon Progo, baik dalam optimalisasi penghimpunan ZIS maupun pelaksanaan berbagai program bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, penanganan bencana, serta kegiatan kemanusiaan lainnya demi terwujudnya Kulon Progo yang lebih sejahtera dan berkeadilan.
Ayo Bayar ZIS Melalui BAZNAS Kulon Progo Mudah dan Praktis Klik Link berikut:
Link Zakat : https://kabkulonprogo.baznas.go.id/bayarzakat
Link Sedekah : https://kabkulonprogo.baznas.go.id/sedekah
31-07-2026 | Edi Kurniawan, M.M.
Berita Pendistribusian

Penyaluran bantuan tranportasi berobat
Penyaluran bantuan tranportasi berobat, warga kokap
24/09/2026 | Humas BAZNAS KP

Safari Jumat 18 September 2026
Penyaluran bantuan di lokasi Safari Jumat kabupaten di masjid Darunnajah, Karangrejo, Karangwuni, Wates, Kulon Progo Jumat, 18 September 2026
18/09/2026 | Humas BAZNAS KP

Safari Jumat, 11 September 2026
Penyaluran bantuan biaya hidup (Fakir) dan pengembangan masjid pada acara safari jumat pemkab kulon progo di Masjid Al Iman, Kliwonan, Banjarharjo, Kalibawang (Jumat, 11 September 2026)
11/09/2026 | Humas BAZNAS KP
Artikel Terbaru
SHALAT DAN ZAKAT: Solusi Permasalahan Umat
Shalat dan zakat merupakan dua ibadah utama yang selalu disebut berdampingan dalam Al-Qur'an sebagai fondasi kehidupan seorang muslim. Shalat membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT sekaligus membentuk akhlak, kedisiplinan, dan ketenangan jiwa. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (QS. Al-'Ankabut: 45). Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa shalat adalah tiang agama (HR. Tirmidzi), sehingga menjadi solusi bagi krisis moral dan spiritual yang dihadapi umat.
Di sisi lain, zakat adalah solusi Islam terhadap persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Allah SWT berfirman, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka" (QS. At-Taubah: 103). Melalui zakat, harta menjadi lebih berkah, kebutuhan fakir miskin terpenuhi, serta tumbuh rasa kepedulian dan persaudaraan di tengah masyarakat. Pengelolaan zakat yang amanah juga mampu memperkuat ekonomi umat dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Shalat dan zakat menyempurnakan iman karena menggabungkan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Allah SWT menjanjikan pahala dan ketenangan bagi orang yang beriman, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat (QS. Al-Baqarah: 277). Oleh karena itu, ketika umat istiqamah menjaga shalat dan menunaikan zakat, akan lahir masyarakat yang bertakwa, peduli, saling menolong, dan memperoleh keberkahan hidup di dunia maupun akhirat.
Shalat dan zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi solusi nyata bagi berbagai permasalahan umat. Shalat memperbaiki hati, akhlak, dan kedisiplinan hidup, sedangkan zakat mengatasi kemiskinan, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan keadilan sosial. Apabila keduanya diamalkan secara istiqamah, akan lahir masyarakat yang bertakwa, peduli, dan berkemajuan sebagaimana cita-cita Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.
18/09/2026 | Edi Kurniawan, M.M.
MANFAAT ZAKAT
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki manfaat besar bagi fakir dan miskin sebagai golongan utama penerima zakat (mustahik). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin...” (QS. At-Taubah: 60). Melalui zakat, kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, kesehatan, dan pendidikan dapat terpenuhi, sekaligus menjadi sarana pemerataan kesejahteraan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang mampu (QS. Al-Hasyr: 7).
Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya kepedulian sosial melalui sabdanya, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa zakat tidak hanya membantu fakir miskin bertahan hidup, tetapi juga mendorong mereka menjadi pribadi yang mandiri melalui pemberdayaan ekonomi, seperti bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, dan pendampingan sehingga memiliki kesempatan meningkatkan taraf hidup.
Kisah Khalifah Umar bin Khattab RA menjadi teladan nyata kepedulian terhadap fakir miskin. Ketika menemukan seorang ibu dan anak-anaknya yang kelaparan, Umar memikul sendiri gandum dari Baitul Mal dan memasakkan makanan hingga mereka kenyang. Kisah ini menunjukkan bahwa zakat dan kepedulian sosial harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Melalui pengelolaan zakat yang amanah, zakat tidak hanya meringankan beban kaum dhuafa, tetapi juga menjadi jalan menghadirkan keberkahan, keadilan sosial, dan mengubah mustahik menjadi muzaki di masa depan.
11/09/2026 | Edi Kurniawan, M.M.
BENCANA, ZAKAT, DAN SYUKUR
Bencana dapat datang tanpa mengenal waktu. Dalam sekejap, rumah dapat rusak, harta benda hilang, mata pencaharian terhenti, dan kehidupan masyarakat berubah. Di tengah ujian tersebut, Islam mengajarkan kesabaran kepada mereka yang terdampak sekaligus kepedulian kepada mereka yang diberikan kemampuan untuk membantu.
Bencana bukan hanya tentang kehilangan. Di balik sebuah musibah, terdapat pelajaran tentang kesabaran, kepedulian, solidaritas, dan rasa syukur. Bagi mereka yang sedang diuji, musibah menjadi momentum untuk bersabar dan memohon pertolongan Allah SWT. Sementara bagi mereka yang masih diberikan kelapangan, musibah menjadi pengingat bahwa setiap nikmat adalah amanah yang semestinya diwujudkan dalam kebaikan. Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut adalah melalui zakat, infak, dan sedekah.
1. Bencana dan Ujian Kehidupan
Allah SWT telah mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi berbagai bentuk ujian dalam kehidupannya. Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia. Bencana dapat menjadi ujian yang berat bagi masyarakat yang terdampak, terutama ketika mereka kehilangan rumah, harta, pekerjaan, bahkan orang-orang yang mereka cintai.
Karena itu, ketika musibah terjadi, respons yang seharusnya tumbuh bukanlah saling menyalahkan, melainkan kesabaran, doa, gotong royong, dan kepedulian. Allah SWT berfirman: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
Bagi orang beriman, musibah tidak berarti berhenti berharap. Selalu ada ruang untuk bangkit, saling menguatkan, dan mengambil hikmah dari setiap keadaan.
2. Bencana Menumbuhkan Kepedulian
Ketika melihat saudara kita kehilangan tempat tinggal, kesulitan mendapatkan makanan, kekurangan air bersih, atau kehilangan sumber penghasilan, kita mungkin tidak dapat menghapus seluruh kesulitan mereka. Namun, kita dapat mengambil bagian untuk meringankannya. Islam mengajarkan bahwa orang-orang beriman memiliki hubungan yang erat antara satu dengan lainnya. Rasulullah SAW bersabda:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menggambarkan pentingnya solidaritas. Ketika sebagian masyarakat mengalami kesulitan, masyarakat lainnya tidak seharusnya tinggal diam. Bantuan dapat diberikan dalam berbagai bentuk: tenaga, makanan, air bersih, pakaian, layanan kesehatan, dukungan pemulihan, maupun bantuan finansial melalui zakat, infak, dan sedekah.
3. Zakat sebagai Wujud Kepedulian kepada Sesama
Zakat merupakan salah satu rukun Islam sekaligus bentuk ibadah yang memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Allah SWT berfirman: “Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Zakat mengajarkan bahwa di dalam harta yang Allah SWT titipkan kepada kita terdapat kewajiban yang harus ditunaikan kepada pihak yang berhak menerimanya. Allah SWT juga berfirman: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan...” (QS. At-Taubah: 60)
Ayat tersebut menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat. Dalam konteks kebencanaan, masyarakat yang terdampak dapat menjadi penerima zakat apabila mereka termasuk dalam kategori mustahik, misalnya menjadi fakir atau miskin akibat kehilangan harta dan sumber penghidupan. Karena itu, penyaluran zakat kepada korban bencana harus tetap memperhatikan ketentuan syariat dan status penerimanya sebagai mustahik.
Sementara itu, untuk kebutuhan kemanusiaan yang lebih luas dan tidak secara langsung terkait dengan penerima zakat, infak dan sedekah dapat menjadi instrumen penting untuk membantu masyarakat terdampak. Dengan pengelolaan yang amanah dan tepat sasaran, zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu masyarakat melewati masa sulit dan membangun kembali kehidupan mereka. BAZNAS juga menempatkan program kemanusiaan sebagai salah satu ruang pendistribusian zakat kepada mustahik yang terdampak bencana.
Selain itu Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai Wujud Syukur. Zakat memiliki ketentuan dan penerima yang telah ditetapkan oleh syariat. Sementara infak dan sedekah memiliki cakupan pemberian yang lebih luas. Keduanya dapat menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, mari menempatkan zakat bukan hanya sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Mari menjadikan infak bukan sekadar pemberian, tetapi sebagai wujud rasa syukur. Mari menjadikan sedekah bukan hanya sebagai amal pribadi, tetapi juga sebagai jalan menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan. Di tengah bencana, kepedulian kita dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.
4. Syukur Ketika Allah Memberikan Keselamatan
Ketika bencana terjadi di suatu daerah, sebagian dari kita mungkin berada dalam keadaan aman. Rumah masih berdiri, keluarga masih berkumpul, pekerjaan masih berjalan, dan kebutuhan sehari-hari masih dapat terpenuhi. Keadaan tersebut merupakan nikmat yang patut disyukuri. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Namun, syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah. Syukur juga berarti menggunakan nikmat Allah SWT untuk kebaikan. Ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, salah satu bentuk syukurnya adalah menunaikan zakat dan membantu orang yang membutuhkan. Ketika Allah memberikan kesehatan, kita dapat menggunakannya untuk membantu sesama. Ketika Allah memberikan keselamatan dari bencana, kita dapat menunjukkan rasa syukur dengan hadir membantu saudara-saudara yang sedang diuji. Dengan demikian, syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui tindakan.
5. Membantu Sesama, Meringankan Kesulitan
Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang membantu meringankan kesulitan saudaranya. “Barang siapa melapangkan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melapangkan baginya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa membantu sesama bukanlah sebuah kerugian. Apa yang kita berikan mungkin terlihat kecil di mata manusia, tetapi dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan. Sebungkus makanan mungkin sederhana bagi kita, tetapi sangat berarti bagi keluarga yang sedang kehilangan sumber makanan.
Sejumlah uang mungkin tidak besar bagi kita, tetapi dapat membantu memenuhi kebutuhan seseorang yang kehilangan penghasilan. Setetes kepedulian mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama-sama dapat menjadi gelombang solidaritas yang besar.
6. Musibah Menjadi Momentum Kebaikan
Bencana mengajarkan kepada kita bahwa harta, kesehatan, tempat tinggal, pekerjaan, dan keselamatan adalah nikmat yang sangat berharga. Hari ini kita mungkin sedang berada dalam keadaan lapang. Namun, kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan kita di masa mendatang.
Karena itu, selagi Allah SWT memberikan kemampuan, mari menunaikan kewajiban zakat dan memperbanyak infak serta sedekah. Ketika saudara kita tertimpa musibah, mari hadir dengan kepedulian. Ketika mereka kehilangan, mari membantu.
Ketika mereka lemah, mari menguatkan. Ketika mereka kehilangan harapan, mari bersama-sama menghadirkan kembali harapan. Sebab, syukur yang sejati bukan hanya tentang menikmati nikmat yang kita miliki, tetapi juga tentang menggunakan nikmat tersebut untuk memberi manfaat kepada sesama.
Pada akhirnya, bencana mengajarkan tiga hal penting. Pertama, sabar ketika diuji. Musibah adalah bagian dari kehidupan dan orang beriman diajarkan untuk bersabar serta memohon pertolongan Allah SWT. Kedua, bersyukur ketika diberikan keselamatan dan kelapangan. Nikmat yang kita rasakan adalah amanah yang harus dijaga dan digunakan untuk kebaikan. Ketiga, berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Zakat, infak, dan sedekah merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan kepedulian dan membantu meringankan beban sesama. (ditulis dari berbagai sumber)
04/09/2026 | Edi Kurniawan, M.M.
BAZNAS TV
Bedah Rumah RTLH
Penulis: Humas BaznasKP
Bantuan ALADIN
Penulis: Humas BaznasKP






